Isi Kepala Ila: Enemy to Bestie
(Sebenernya ini tulisan udah ngendap lama di laptop dan baru kuselesaikan hari ini. Jadi maklum bahasanya masih gak jelas WKWK)
22:09
24 Juni 2021
Pernah tertegun gak sih betapa orang bisa baik banget sama kita?
Hari ini aku ngerasa banget betapa hidup terus berjalan dan
emosi senantiasa berubah. Hari ini pula aku dapat kabar bahwa seorang teman
telah berhasil mempublish jurnal akademiknya. And I can’t be more proud of her.
Tapi yang ngebuat aku sedikit mematung di depan laptop sekarang adalah ketika
namaku disebutnya sebagai sahabat yang selalu support dia when in fact I feel
like I did nothing to help her.
Aku jadi keinget di awal perkuliahan dan pertemuanku
dengannya aku tidak terlalu suka dengannya. Bukannya benci, aku masih bisa
interact and get along with her but aku ga kepikiran untuk menjadi teman
apalagi sahabat. Karena aku diam diam menyimpan rasa iri dalam diriku. Aku
enggak bisa kaya dia. Aku engga bisa mengejar dia. Padahal kita satu kelas dan
begitu dekat. Sampai rasa untuk berkompetisi dengan dia muncul, aku bahkan
sampai berbuat curang demi bisa sampai ke levelnya.
Saat itu semester 2, akhirnya aku ketahuan menyontek oleh
salah satu dosen dan aku menangis tersedu karena panik. Entah kenapa orang yang
kupikirkan untuk kuhubungi pertama kali ialah dia. Dia menemaniku hingga aku
tenang bahkan mengantarkanku sampai ke kosan. Esoknya pun dia membelikanku beberapa
makanan kecil untuk menunjukkan supportnya ke aku. Namun hingga semester 3,
rasa iri dan cemburu ku ke dia tak kunjung hilang dan malahan bertambah karena
ia sangat dekat dengan dosen dan menurutku itu yang membuatnya terlihat pintar
dan terkenal. Sampai semester 4 awal, aku menyadari bahwa tak ada gunanya untuk
terus menyimpan rasa iri dan dengki ini. Aku banyak berkaca dan merenungi
diriku.
Aku sadar bahwa ternyata aku iri dengan dia karena aku tak
bisa seperti dia, apapun yang kulakukan untuk mengejar dia selalu gagal karena
aku ingin menjadi persis seperti dia. Aku akhirnya mengerti bahwa kita berbeda.
Daripada terus menyimpan rasa iri terhadap dia lebih baik aku berteman
dengannya dan mungkin aku bisa belajar sesuatu darinya. Tak kusangka, it works.
Aku mulai memperbaiki komunikasiku dengannya dan mulai sedikit terbuka
dengannya, hingga akhirnya kamipun semakin dekat dan bahkan ia mengajakku
membuat sebuah project bersama. Aku sangat senang dengan kemajuan yang terjadi
di hubungan kami.
Namun, kini aku merasa lumayan bersalah karena dulu sempat
berpikiran jelek tentangnya yang sekarang bahkan menganggapku seorang sahabat.
Di sisi lain aku bangga berteman dengannya namun di sisi lain aku merasa aku
bermuka dua, seorang musuh dalam selimut yang mengintai dia. Padahal aku sudah
tak merasakan iri itu lagi. Aku sudah sepenuhnya menyadari bahwa kita berjalan
di jalur yang berbeda walau kita berjalan di lapangan yang sama. Aku sangat
ingin berkata jujur padanya tentang ini namun aku masih belum menemukan momen
dan kata kata yang pas untuk menyampaikan ini padanya.
Sampai suatu hari akhirnya aku memberanikan diri untuk
mengatakan yang sejujurnya. Ternyata, dia juga diam diam menyimpan sesuatu
untukku, yaitu rasa suka dan kagum. Awalnya aku bilang aku tak percaya
bagaimana dia bisa melihatku seperti itu. Dia melihat sesuatu yang aku sendiri
tak menyadarinya,
Sejak saat itu, akhirnya kita semakin dekat dan dekat, dan
bahkan aku menganggapnya sebagai sahabat. Terima kasih, kawan.
Lalaaa, aku kangen kamu :))
ReplyDelete