Aku dan kisahku tentang buku
Sejak liburan semester kemarin aku mulai mengumpulkan lagi semangat untuk membaca novel-novel yang lama tertata di rak buku rumahku. Aku membuka segel buku yang sudah lama kubeli namun hanya kujadikan pajangan di rakku. Dengan semangat aku menemukan beberapa buku yang menarik perhatianku, mulai dari covernya, sinopsis yang tertulis di balik bukunya hingga aroma kertasnya. Setelah merampungkan buku karya Paulo Coelho yang berjudul The Alchemist, aku memulai membaca sebuah kumpulan puisi dari Sapardi Djoko Darmono yang berjudul Perahu Kertas. Bukunya menarik perhatianku dengan sampul buku berawarna toska cerah dan bergambar perahu kertas di tengah-tengahnya. Minimalis dan manis sekali. Aku membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikan bukunya karena aku perlu menyerapi tiap-tiap kata dalam puisi-puisi di dalam buku tersebut. Setelah itu aku membuka segel buku berjudul Kisses from Hell, sebuah kumpulan cerpen dari para penulis mancanegara yang terkenal. Walau aku kurang tertarik dengan cerita vampir dan supernatural, aku dengan baik merampungkan bukunya karena bahasa terjemahannya enak dibaca dan layout di tiap halamannya menurutku sangat rapi dan membuat mataku nyaman seolah memintaku untuk tidak berhenti membaca. Setelah itu aku mengambil buku karya Charles Dickens yang berjudul The Christmas Carol. Walaupun ini buku sastra Inggris klasik, aku lumayan dapat menikmati novelnya karena Dickens mengolah bukunya seolah-olah untuk semua kalangan dan tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata rumit seperti buku sastra Inggris kebanyakan. Well, karena aku orangnya cepat kebosanan, aku memutuskan untuk membaca satu novel lagi yang berbahasa Indonesia, lalu aku memutuskan untuk membaca versi Indonesia dari Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata.
Awalnya aku membeli buku ini karena kulihat harganya yang murah manakala aku mengunjungi BBW (Big Bad Wolf, sebuah bazar buku besar dengan banyak buku impor murah) di Jogja tahun kemarin. Seperti biasa aku selalu membaca beberapa review buku yang akan kubaca sebelum aku memutuskan membaca buku tersebut. Tidak banyak review yang kudapatkan untuk buku ini, hanya beberapa review saja yang kudapatkan dari goodreads, itupun versi terjemahan Inggrisnya. Kulihat tidak ada juga booktubers di Youtube yang mereview buku dengan cover indah ini. Lalu dengan meyakinkan diri sendiri aku membuka segel plastik buku tersebut dan mulai membaca bab pertama dari buku itu. Awalnya aku sempat sangsi dengan buku ini karena aku mendapati aku kesulitan memahami bahasa terjemahannya karena banyak bahasa yang jarang digunakan namun dipakai sang penerjemah. Dengan penuh rasa penasaran aku menilik ke belakang buku tersebut dengan mendapati sebuah penerbit bernama sama yang dimana bukunya pernah kubaca sebelumnya dan aku menyerah untuk melanjutkan membaca buku tersebut dengan alasan yang sama, yaitu bahasa terjemahan yang tidak enak untuk dibaca. Aku tidak akan menyebutkan apa nama penerbitnya, cukup hanya aku, Tuhan dan beberapa temanku saja yang tahu. Mungkin aku akan menjadikan ini sebagai pelajaran pribadiku untuk lebih memperhatikan lagi buku yang akan kubaca selain dari sampul, sinopsis dan penulisnya, khususnya jika itu buku terjemahan.
Sekarang aku mengerti kenapa Beauty and Sadness yang kubeli sewaktu di BBW waktu itu hanya dibanderol harga 28ribu rupiah. Namun sekarang aku dalam kegundahan yang amat besar karena aku merasa tidak bertanggung jawab karena tidak menyelesaikan buku-buku dari penerbit tersebut. Padahal aku sangat penasaran dengan cerita dari salah satu buku penerbit tersebut yang sempat kubeli juga sebelum Beauty and Sadness, mengingat penulisnya adalah Franz Kafka dengan cerpennya yang sangat terkenal berjudul The Metamorphosis. Dari cerita teman twitterku aku seharusnya membeli dari penerbit yang ditunjukkannya karena penerbit tersebut menerjemahkan langsung dari bahasa Kafka sendiri yaitu bahasa Jerman. Sekarang aku perlu menabung lebih banyak untuk membeli buku dari penerbit tersebut. Huft, semoga saja aku cukup kuat untuk menahan uang keluar dari rekeningku untuk hal-hal yang sekiranya tidak berguna untukku, haha!
Kegundahanku yang lain adalah sekarang aku bingung ingin membaca buku apa! Gara gara buku sebelumnya aku jadi tidak menikmati membaca karena aku seperti menekan diriku sendiri untuk menyelesaikan buku tersebut padahal aku membaca untuk menghibur diriku sendiri. Sepertinya aku harus lebih hati-hati lagi dalam memilih apa yang harus kubaca.
Comments
Post a Comment