IlaMembaca : Saman karya Ayu Utami
Hai! Jadi aku mutusin buat bikin semacam rubrik gitu di
blogku ini, yah paling bakal kuisi dengan review buku, anime sama film. Semoga dengan
ini liburanku jadi ada faedahnya sedikit lah ya dan biar dibilang produktif
HAHAHA. Oiya sebelumnya aku mau ngasih tau kalo di setiap review aku pasti
nyeritain soal kontennya jadi SPOILER ALERT!!!!. Langsung aja deh ini dia rubrik
IlaMembaca edisi pertama!
Sejak pandemi virus Corona merebak, aku banyak menghabiskan
waktuku buat #dirumahaja dan melakukan kegiatan yang sekiranya bisa kulakukan
di rumah untuk membunuh kebosananku. Selain ngerjain tugas kuliah, aku juga nonton
film, nonton anime, dengerin lagu, dan…baca buku pastinya! Beberapa hari yang
lalu aku habis baca buku yang lumayan legend
di kesusastraan Indonesia, Saman karya Ayu Utami. Aku pertama kali mengetahui
soal buku ini saat aku sedang surfing
di goodreads, platform online untuk
meresensi buku dan mengetahui banyak hal soal penulis dalam berbagai genre serta bahasa. Waktu aku sedang
berkepo ria mencari buku sastra Indonesia yang penulisnya perempuan, ketemulah
aku dengan buku ini. Awalnya aku sempat ragu dengan sinopsis buku ini yang
sangat minimalis dan aku nggak bisa mendapatkan gambaran soal buku ini. Namun
setelah dengan penuh keyakinan setelah membaca resensi resensi yang mengatakan
bahwa buku ini bagus, akhirnya aku membeli buku pertama dari dwilogi Saman ini.
Cerita ini berputar pada kehidupan Saman, seorang mantan
pastor yang menjadi aktivis pada jaman orde baru setelah desa yang ia kelola
bersama warga lainnya harus hancur oleh perusahaan besar yang menginginkan
tanah tersebut. Lalu setelah mengalami berbagai macam kejadian seperti
penculikan dan penganiayaan ia akhirnya berhasil kabur dengan dibantu oleh
empat sahabat yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laila. Setiap perempuan
tersebut mempunyai kepribadian dan latar kehidupannya masing masing. Menurutku
ini yang membuat Saman istimewa sih, gimana orang yang saling bersebrangan dan
menolak bisa bersahabat begitu lama. Apalagi ada cerita romansa antara Saman
dan dua perempuan di pertemanan tersebut yaitu Yasmin dan Laila.
Dari segi plot dan ide cerita, Saman mungkin mempunyai
premis yang biasa. Namun buku ini terbit di penghujung orde baru dimana setelah
10 hari penerbitan buku ini, terjadi berbagai macam peristiwa seperti Tragedi
Trisakti. Menurutku sendiri sih, untuk ukuran tahun segitu, buku ini punya
cerita yang lumayan berani ya. Gimana seorang penulis wanita membuat novel
roman dengan pemikiran-pemikiran yang bebas dan terbuka tentang seksualitas
perempuan. Apalagi novel ini juga sedikit banyak mengkritisi kondisi
sosial-politik pada masa itu. Sedikit banyak aku jadi belajar gimana kerasnya
bertahan hidup di Indonesia pada saat itu. Oh iya, di buku ini juga sedikit
dikasih tahu gimana sih kehidupan seorang Pastor itu, dari awal pentasbihan
sampai akhirnya dia mengabdi buat gerejanya. Aku suka banget pengembangan
karakter si Saman yang awalnya seorang pastor yang taat hingga perlahan lahan
dia kehilangan keyakinannya terhadap Tuhannya sendiri. Semua itu muncul murni
dari dalam pemikirannya sendiri dan aku suka gimana semua itu dibeberkan dengan
apa adanya.
Kalau dari segi pemilihan kata atau diksi sih menurutku
tante Ayu Utami emang jago deh dalam mengolah kata. Beliau juga memakai
beberapa kata dalam bahasa Melayu, untungnya aku sering nonton Upin Ipin jadi
hamdalah masih ngerti diki dikit HAHAHA. Tapi aku suka banget penceritaan si
Saman lewat suratnya buat bapaknya, gimana dia ceritain detail di hidupnya
dengan begitu puitis namun masih enak untuk diikuti dan dicerna. Apalagi di
bagian percakapan Saman sama Yasmin lewat e-mail. Menurutku itu epic banget sih walau percakapan hanya
dilakukan lewat surat elektronik namun rasanya mereka sedang ngobrol berdua di
ranjang empuk dan hangat. Ayu Utami mengolah obrolan virtual menjadi obrolan
intim yang vulgar dan blak-blakan. Mendobrak dinding ketabuan namun masih
menari nari dengan kata-kata indah dan penuh makna.
Oiya biar kaya review review buku pada umumnya, berikut aku kasih identitas bukunya;
Judul : Saman
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
ISBN : 978-979-91-0570-7
Tebal : 206 hlm
Tahun : Mei 2013
Kalo dari buku fisiknya sendiri sih aku dapet yang edisi 20 tahunnya
sih yang ada gambar hati merah di tengahnya dan berlatar warna silver. Kertasnya
menggunakan kertas buku warna kekuningan dengan aroma khas buku baru (AWWWWW
suka banget aku sama baunyaaa:3) fontnya
juga menurutku ga terlalu kecil dan ga terlalu besar juga jadinya enak aja gitu
buat dipantengin lama lama.
Setelah membaca buku ini rasanya aku punya banyak insights baru tentang kehidupan seks dan
seksualitas perempuan. Gimana seharusnya perempuan itu juga harusnya merasa
aman dan nyaman untuk menunjukkan serta mengekspresikan hasrat seksual mereka. Tanpa
perlu dihakimi siapapun dan tanpa dibelenggu moral. Karena bagiku moral sendiri
adalah bias. Mungkin saja moral di kelompok masyarakat A bisa sangat bertolak
belakang dengan kelompok masyarakat lainnya. Well well well.. duh kenapa aku
malah jadi sok bijak gini sih hahahaha. Tapi emang sih seharusnya perempuan
merasa bebas untuk ngobrol tentang menstruasi dan ukuran bra mereka tanpa perlu
merasa malu.
Overall aku mau kasih buku ini 9/10 huhu karena membekas
banget bukunya di ingatan aku. Oh iya kayanya emang dwilogi Saman ini harus
dilanjutin dengan baca buku selanjutnya deh, yang judulnya Larung. Cuma aku
lagi ngumpulin duit juga buat beli buku selanjutnya. Doakan semoga cepet kebeli
deh ya biar bisa aku review lagi hehe. Segini dulu edisi pertama IlaMembaca kali
ini ya, maaf kalo ada perkataan yang kurang berkenan. See you on the other
post!

Huaaa , jadi pen baca , keinget juga kalo tiap mau ngomongin mens aja kudu pake bahasa isyarat . Beli bra aja kudu diem diem saking malunya ,duh aku nih .Ila love you
ReplyDeleteHalo, unknown! Makasih udah sempetin baca dan ngasih tanggepan ya! Buku ini worth banget buat dibaca kok. jangan lagi malu yaa pokoknya kita harus normalize ngomongin soal menstruasi, bra dan hal hal tentang seks dan badan manusia, supaya gaada lagi yang namanya pelecehan dan kasus tentang seksualitas lainnya.
Delete